WASPADA PANGAN 2015

Selama kurun empat bulan terakhir ini kita disuguhi oleh hiruk- pikuk program, kebijakan, dan target terkait sektor pertanian dan pangan yang untuk beberapa terkesan bombastis dan beberapa lainnya justru tidak menjawab persoalan mendasar sektor tersebut.

Belum cukup dengan hiruk-pikuk tersebut, masyarakat tiba-tiba dikejutkan oleh kenaikan harga beras yang sangat tinggi (rata-rata 30 persen) dalam dua bulan terakhir ini, yang tampaknya lepas dari pengamatan dan pengawalan kementerian/lembaga yang bertanggung jawab terhadap masalah itu. Setelah Presiden Joko Widodo turun tangan langsung, baru gejolak harga beras yang menggila itu bisa diredam.

Berbagai hiruk-pikuk dan gejolak tersebut dipastikan akan terus berulang apabila kebijakan dan program yang diambil tidak ada perubahan yang sangat mendasar dari yang sudah dilakukan selama 17 tahun terakhir ini.

Konsep dan paradigma kedaulatan pangan yang didengungkan pemerintah saat ini seolah memunculkan harapan baru terjadinya perubahan kebijakan dan program ”yang fundamental”. Sayangnya, dengan berlalunya hari, berlalu juga cita-cita luhur tersebut, yang menyisakan wacana dan retorika kedaulatan pangan yang manis untuk diucapkan, tetapi menjauh dari kenyataan yang ada.

Produksi turun

Berkaca pada tahun 2014, pada tahun lalu ditargetkan produksi padi meningkat pada angka fantastis sebesar 8,04 persen (Rencana Aksi Bukittinggi) yang kemudian penulis komentari dengan kata ”isapan jempol belaka” (Kompas, 21/1/2014). Hal tersebut terbukti dengan diluncurkannya angka sementara) produksi padi, jagung, dan kedelai tahun 2014 (BPS, 2/3/2015). Produksi padi tahun 2014 bukannya naik, melainkan justru turun 0,63 persen dari 71,3 juta ton gabah kering giling (GKG) menjadi 70,8 juta ton GKG.

Penurunan produksi tersebut disumbangkan oleh penurunan luas panen sebesar 41,61 ribu hektar dan penurunan produktivitas sebesar 0,17 kuintal per hektar. Penurunan produksi padi terutama terjadi di Pulau Jawa dan sedikit kenaikan produksi di Luar Jawa. Penurunan produksi itu menyebabkan kenaikan harga beras sebesar 13,9 persen sepanjang tahun 2014 dibandingkan 2013. Krisis beras tersebut kemudian mencapai puncaknya pada bulan Januari-Februari 2015.

Produksi padi 2014 yang tidak menggembirakan ini sudah penulis perkirakan di awal tahun 2014 (”Situasi Pangan 2014”, Kompas, 21/1/2014, ”Banjir dan Produksi Pangan”, Kompas, 14/2/2014), bahkan penulis menyebutkan Indonesia terpaksa harus mengimpor beras di atas 1,5 juta ton pada tahun 2014. Impor beras itu diperlukan untuk menstabilkan harga beras di pasar domestik karena nisbah stok/konsumsi yang mencapai titik terendah selama tiga tahun terakhir, puso akibat banjir di awal tahun, serta ancaman El Nino di tengah dan akhir tahun.

Stok beras nasional di awal tahun terus menurun dari 7,4 juta metrik ton di periode 2012/2013 menjadi 6,48 juta metrik ton (2013/2014) dan 5,5 juta metrik ton di awal Januari 2015 (WASDE-USDA, 10/2/2015) atau penurunan 26 persen dalam tempo hanya dua tahun.
Berkaitan dengan impor beras, Indonesia pada tahun 2014 melakukan impor sebesar 1,225 juta ton (USDA, 3/12/2014) atau sedikit lebih rendah daripada perkiraan penulis. Impor beras yang lebih rendah dari perkiraan tersebut harus dibayar mahal dengan terjadinya gejolak harga di awal tahun 2015. Meskipun demikian, kita semua patut bersyukur karena kenaikan tajam harga beras tersebut tidak sampai menimbulkan gejolak sosial yang besar.

Fenomena trade-off antara produksi padi dengan jagung dan kedelai teramati di tahun 2014. Produksi jagung dan kedelai masing-masing meningkat 2,81 persen dan 22,30 persen yang kenaikannya terutama disumbang oleh kenaikan produksi di Pulau Jawa. Ketika luas panen padi terutama di Pulau Jawa menurun, biasanya akan diikuti dengan peningkatan luas panen kedelai dan jagung.

Situasi pangan global

Sistem pangan Indonesia sudah terintegrasi sedemikian masif ke sistem pangan dunia. Integrasi itu semakin menguat dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun ini. Dengan demikian, jika terjadi gejolak pangan di tingkat internasional, gelombangnya dengan cepat mengenai petani kecil kita tanpa ada jeda waktu untuk mengantisipasinya.

Penurunan harga minyak bumi sebesar 50 persen sebagian menyebabkan turunnya indeks harga pangan dunia. Secara teoretis, setiap penurunan/kenaikan harga minyak bumi sebesar 10 persen akan diikuti dengan penurunan/kenaikan harga pangan sebesar 3 persen. Indeks harga pangan turun sebesar 10 persen dari 203,2 di Januari 2014 menjadi 182,7 di Januari 2015. Penurunan terbesar disumbangkan oleh susu dan produk turunannya sebesar 35 persen, disusul minyak nabati sebesar 17,3 persen, dan biji-bijian (serealia) sebesar 7,3 persen. Harga daging justru meningkat 6,6 persen.

Apabila total produksi serealia meningkat, tidak demikian untuk padi. Produksi padi dunia mengalami sedikit penurunan (-0,4 persen) karena penurunan produksi terutama di produsen beras utama, yaitu India dan Thailand. Meskipun produksi padi dunia tahun 2014 kurang menggembirakan, harga beras ternyata ikut turun bersamaan dengan turunnya harga serealia lainnya. Hal itu memicu banyak negara membeli beras dari pasar internasional selama tengah hingga akhir tahun 2014. Hal ini menyebabkan nisbah stok/konsumsi beras dunia di tahun 2015 akan mengalami titik terendah selama 10 tahun terakhir.

Berkaitan dengan situasi pangan di Indonesia dan dinamika harga pangan dunia, sebaiknya pemerintah melupakan upaya mengekspor 1 juta beras premium ke luar negeri. Alih-alih mengekspor beras, pada tahun ini diperkirakan produksi padi akan stagnan seperti tahun 2014, ataupun kalau terjadi kenaikan teramat kecil sehingga masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Author: HA (KWU’15)

Written by admin

Leave a Reply