“Lantas siapakah yang harus bertanggung jawab dengan ketidakpedulian terhadap permasalahan bangsa kita, hari ini?”

Bermula dari sikap acuh, masa bodoh dan tidak peduli, maka timbulah sikap apatisme yang saat ini dalam kaidahnya sudah menyebar ke seluruh penjuru nadi di masyarakat Indonesia.

Apatisme. Satu kata yang sedang merajalela di kalangan masyarakat luas dan mahasiswa khususnya. Sikap yang merasa acuh tak acuh terhadap persoalan yang rumit pada negeri ini. Mendengar, mengerti, tetapi tidak ada aksi. Sungguh tragis, kepekaan dan sikap kritis yang seharusnya menjadi life stylemind style dan paradigma idealis para masyarakat dan mahasiswa dalam berfikir kini malah justru dilupakan bahkan ditinggalkan. Sebagai seorang yang mampu bertahan pada kehidupan sosial, yang akan terjun di dalam dunia pergerakan, prestasi tidaklah cukup untuk membawa sebuah perubahan, perlu adanya aksi dan kontribusi untuk mewujudkan itu semua.

Apakah tiap kali kita mendengar kata “apatis” dan “mahasiswa” harus selalu dihubungkan dengan sikap kita terhadap permasalahan negara? Sadarkah kita bahwa sebelum mengurusi perkara besar, kita harus mampu mengenali dan mampu menyelesaikan perkara kecil di sekitar kita?

Apatis tidak selalu dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut masalah kenegaraan atau masalah politik saja. Jadi sederhananya, ketidakpedulian kita terhadap hal-hal seperti kepada lingkungan, teman, dan keluarga juga tergolong sebagai bentuk dari apatisme. Dari hal yang sederhana seperti itu, dampak yang diakibatkan dapat berkembang lebih jauh lagi apabila kita sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Mari kita refleksikan bersama, bahwa menjadi lebih peduli bukan selalu mengenai mengurusi masalah negara. Cepat atau lambat kita akan sampai di sana. Sebagai langkah awal, marilah kita buka mata, hati, dan pikiran untuk menyikapi dan meningkatkan kepedulian, entah dalam lingkup jurusan, fakultas, maupun universitas dengan segala seluk-beluk dan intriknya. Mari bersama menjadi pribadi yang peduli, berani, dan intelektual, karena berani berbicara tanpa logika akan sia-sia belaka.

“Hancurnya negara bukan selalu karena adanya orang-orang jahat, tapi karena banyak orang-orang baik yang tidak peduli dan enggan membuka suara JJJ”

SALAM PERGERAKAN!!!

http://www.kompasiana.com/

Written by admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *