Isu Beras Plastik Meresahkan Indonesia

Beras merupakan sumber karbohidrat utama bagi beberapa negara di dunia. Bahkan, beras merupakan bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Hampir semua penduduk di Indonesia bergantung pada beras. Namun, akhir-akhir ini masyarakat Indonesia diresahkan oleh isu beredarnya beras sintetis atau beras plastik. Penemuan beras plastik diawali ketika seorang pedagang bubur asal Bekasi bernama Dewi Septiana yang curiga karena beras yang dimasaknya untuk berdagang bubur memiliki rasa yang getir, lembek dan memiliki bau yang menyengat. Karena merasa curiga, Dewi Septiana melakukan uji sederhana pada beras yang dibelinya karena khawatir beras tersebut merupakan beras sintetis. Uji sederhana yang dilakukan Dewi adalah dengan menempelkan beras pada setrikaan panas. Dari 100% beras yang ditaruh di atas setrika, 30 persennya menempel dan berbau seperti plastik terbakar. Dewi mengadukan penemuan beras plastik ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui surat elektronik ke uplk@pom.go.id pada 18 Mei 2015. Sayangnya, tidak ada respon positif dari BPOM, sehingga Dewi berinisiatif untuk mengunggahnya pada media sosial agar masyarakat bisa lebih waspada akan keberadaan beras sintetis. Karena isu yang simpang siur ini, masyarakat Indonesia menjadi resah.

8Isu tentang keberadaan beras plastik ini sebenarnya sudah banyak dibicarakan, khususnya di Cina. Di negara tirai bambu ini, justru beras sintetis merupakan beras jenis premium karena harganya cukup mahal. Beras sintetis di Cina sering disebut sebagai Artifial Rice yang bermakna ‘beras tiruan buatan manusia’. Beras ini dibuat dari campuran berupa aci yang didalamnya berisi zat karbohidrat dan campuran vitamin serta nutrisi lainnya. Agar menjadi mirip beras, campuran tadi dilapisi oleh zat yang dinamakan plasticizer. Kemudian dicetak dengan mesin khusus yang dinamakan Extruder Machine. Adonan dari Artificial Rice akan menjadi kenyal. Harganya mahal karena sudah ditambahkan oleh nutrisi dan vitamin. Menurut pakar Kimia Universitas Indonesia, Asma Wahyu, penggunaan zat plasticizer dalam proses pembuatan beras plastik aman asalkan terdaftar dan sesuai ketentuan. Yang tidak dibenarkan adalah ‎penggunaan zat campuran plastik lainnya seperti Pthalat atau PPC (Polivynil Chlorida) yang biasa terkandung di dalam pipa paralon karena zat pthalat atau PPC bisa mengakibatkan penyakit kanker dan tidak direkomendasikan oleh Badan Food and Drug (FAD). Zat pthalat atau PPC bersifat anti air sehingga mengakibatkan beras akan kaku dan keras sehingga berbahaya apabila diproses dalam tubuh.

9

Sebagai langkah preventif agar masyarakat lebih cerdas dalam memilih beras untuk dikonsumsi, berikut beberapa cara mengenali beras sintetis:

  1. Rasakan permukaan beras

Salah satu cara mengenali apakah beras asli atau sintetis adalah dengan memegang berasnya. Perhatikan apakah permukaanya terasa agak kasar atau licin. Kalau licin, dapat dipastikan beras tersebut terbuat dari bahan sintetis.

  1. Amati beras dengan teliti

Lihat dengan seksama berasnya. Perhatikan apakah warna putih pada beras itu bening atau sedikit berkeruh. Beras yang berwarna putih keruh merupakan beras asli yang berasal dari gabah. Sebaliknya, warna beras yang terlalu bening dan transparan perlu diwaspadai.

  1. Uji beras dengan perendaman

Ini adalah cara mudah untuk membuktikan apakah beras yang baru saja dibeli asli atau tidak, jika ia terbuat dari plastik maka pasti berasnya akan mengambang sebagaimana sifat plastik yang lebih ringan dari massa air. Jika bahannya memang dicampurkan dengan yang beras asli, maka yang terbuat dari bahan sintetis akan mengapung dengan sendirinya, hal ini bisa dilihat saat kita mencuci beras yang akan dimasak.

  1. Bakar Beras

Ketika dilakukan pemanasan dengan api, maka beras asli akan menjadi abu. Namun, jika beras terlihat meleleh, menggumpal dan menyatu layaknya jika kita membakar plastik, maka dipastikan beras tersebut merupakan beras plastik dan harus segera dihentikan untuk dikomsumsi. Selain itu, jika memang betul dari plastik, maka beras akan mudah terbakar dan terlihat menghitam.

Dengan adanya tips sederhana untuk membedakan beras sintetis dan beras asli seperti yang dijelaskan di atas, diharapkan konsumen bisa lebih selektif dalam pemilihan bahan pokok khusunya beras untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Beras memang merupakan komoditas dan sumber karbohidrat utama di Indonesia. Adanya beras sintetis yang beredar juga dikarenakan kebutuhan akan beras di Indonesia sangat besar sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat, namun Indonesia masih harus mengimpor beras dari negara lain karena keterbatasan jumlah beras. Tak dapat dipungkiri, pemalsuan beras menjadi beras sintetik merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan akan beras bagi penduduk di Indonesia. Padahal, masih banyak sumber karbohidrat lain yang bisa digunakan sebagai bahan pokok pengganti beras, contohnya adalah sorghum. Sorghum merupakan salah satu jenis biji-bijian (cerealia) yang bisa memenuhi kebutuhan karbohidrat dalam tubuh. Sorghum memiliki indeks glikemik rendah sehingga berguna bagi penderita diabetes. Selain itu, sorghum juga punya kandungan protein tinggi sehingga sekaligus dapat mencukupi kebutuhan protein itu. Ilmuwan di Indonesia sudah banyak melakukan riset untuk mengenalkan alternatif sumber karbohidrat lain. Semoga dengan adanya isu ini, konsumen menjadi lebih selektif dalam pemilihan makanan, dan generasi muda bangsa dapat mengembangkan potensi bahan lain untuk sumber karbohidrat alternatif pengganti beras yang lebih bergizi.

Author: Diklar’15

Written by admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *