INDUSTRI NAKAL MENURUNKAN POTENSI SWASEMBADA PANGAN

Ketergantungan masyarakat Indonesia pada komoditas pangan impor memang tidak dapat dicegah, ditambah lagi dengan adanya isu peredaran bahan tambahan makanan berbahaya yang sudah banyak terdapat pada industri kecil rumah tangga seperti produk susu formula bermelamin, daging sampah, bakso yang mengandung boraks, tahu berformalin, dan lainnya. Hal tersebut masih dapat terjadi di masyarakat dikarenakan tidak ketatnya izin pengedaran produk seperti usaha skala menengah dan besar sehingga industri rumah tangga. Memang dari BPOM sudah sering mengadakan razia namun hanya didenda tidak sampai jutaan rupiah. Hal tersebut tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan untuk melakukan razia. Selain itu ditambah dengan adanya isu peredaran beras plastik yang banyak meresahkan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pemerintah saat ini sedang bekerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia untuk mengembangakn pangan alternatif pengganti beras contohnya seperti beras yang terbuat dari umbi. Pemerintah khawatir jika beras sintetis masih terus beredar di masyarakat, kemungkinan besar masyarakat juga akan memiliki paradigma negatif terhadap beras analog. Namun, Sekretaris Perusahaan Bulog Djoni Nur Ashari mengatakan bahwa persediaan beras yang ada di gudang Bulog aman (sumber: www.liputan6.com).

Selain itu, di daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, isu beras plastik sudah merugikan petani karena bisa mengjambat suksesnya program swasembada pangan khususnya di Kabupaten Bogor (sumber: www.harianterbit.com).

Kekhawatiran masyarakat terhadap paradigma negatif pangan lokal, dapat menyebabkan masyarakat menjadi kembali bergantung pada komoditas pangan impor. Teralihkannya kebutuhan pangan lokal maupun bahan pangan pasca panen bisa disebabkan oleh (1) infrastruktur distribusi, (2) sarana dan prasarana pasca panen, (3) pemasaran dan distribusi antar dan keluar daerah dan isolasi daerah, (4) sistem informasi pasar, (5) keterbatasan Lembaga pemasaran daerah, (6) hambatan distribusi karena pungutan resmi dan tidak resmi, (7) kasus penimbunan komoditas pangan oleh spekulan, (8) adanya penurunan akses pangan pangan karena terkena bencana.

Sebagai masyarakat umum, kita seharusnya dapat bersikap lebih berhati-hati dalam memilih kebutuhan pangan denga tetap mengutamakan konsumsi pangan lokal agar dapat menghargai usaha petani Indonesia dan meminimalkan impor pangan. Selain itu, pemerintah juga seharusnya dapat memberikan kebijakan yang dapat menunjang/meningkatkan citra pangan lokal di mata masyarakat serta harus dapat memberikan paradigma positif mengenai beras analog agar dapat dibedakan dengan beras sintetis

Author: BAS & GS

 

Written by admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *